Yah kami Zawa Agung Ciptakarya adalah produsen dan supplier perlengkapan sekolah dan kantor yang beralokasi di Sidoarjo Jawa Timur.
Kami perusahaan yang sudah berpengalaman dalam bidang produk sekolah dan kantor.
Siang itu di Balairung Universitas Indonesia, ada sesuatu yang berbeda. Balairung yang biasanya sepi kini nampak ramai. Terlihat di sekitarnya, dipenuhi para mahasiswa baru yang masih mengenakan seragam masa orientasinya yang berwarna putih-putih, mereka sedang sibuk berfoto bersama menggunakan Jaket Kuning yang pasti baru mereka dapatkan di hari itu. Kita semua nampak memaklumi pola tingkah mereka, kita juga dahulu, saat menjadi mahasiswa baru di kampus ini berlaku seperti mereka, melakukan hal yang sama. Sebab untuk sebagian besar anak yang baru lulus SMA, bisa mendapatkan Jaket Kuning merupakan sebuah kebanggaan tersendiri, tidak sedikit yang menggangap Jaket Kuning merupakan almamater kebanggaan di negeri ini. Baik lah kita tinggalkan sejenak tentang mereka, beralih ke sudut lainnya, terlihat ada beberapa mahasiswa yang sedang berfoto mengenakan Toga Wisuda. Mereka tentunya para calon wisudawan di tahun ini.
Aku meneruskan langkahku, memasuki sebuah aula yang menghadap langsung ke danau UI. Di sana telah dipenuhi banyak mahasiswa, ada yang sedang mengantri mengambil toga, ada juga yang sudah mendapatkan toga wisuda dan berfoto bersamanya. Aku ikut memasuki antrian, untuk mengambil toga wisudaku. Tidak terasa memang, wisuda tinggal memasuki hitungan hari lagi. Tahun ini aku sama seperti mereka menjadi bagian dari para wisudawan, yang akan dinyanyikan oleh ribuan mahasiswa baru dari atas tribune. Aku akan selalu ingat hari itu dan bangunan ini. Tempat dimana cerita masa kuliah bermula saat aku di sambut sebagai mahasiswa baru sekitar 4 tahun lalu, dan cerita kuliahku itu akan resmi ditutup dan dirayakan pada tempat yang sama, Balairung.
Aku juga tak akan pernah melupakan peristiwa yang terjadi jauh sebelum hari wisudaku. Jauh sebelum itu, ada sosok yang berjasa membantuku hingga bisa berkuliah di kampus ini. Selain sosok kedua orangtuaku yang tak pernah lelah mendoakanku, salah satunya juga terdapat seorang yang begitu baik. Wali kelasku saat di kelas sebelas, semasa sekolah dulu, Ibu Elly. Sosok yang pada awalnya membuatku harus menahan tangis karena saat pengambilan rapor ia bertanya “Dimana Ibumu?” Sosok yang mencariku karena aku sudah beberapa hari tidak masuk karena sakit, dan entah bagaimana dia bisa menemukanku terbaring sendirian di kosan yang kosong, padahal teman satu kelasku pun tidak ada yang tahu tempat tingggalku. Aku ingat hari itu Ibu datang membawakanku dua kantung plastik penuh makanan, mengantarku ke rumah sakit dan membayar semua biayanya. Jika Tuhan tidak menjadikan Ibu sebagai perpanjangan dari pertolongan-Nya, mungkin aku sudah mati hari itu. Ah, aku jadi menangis kalau ingat kejadian itu, Bu.
Ibu pun sosok taladan walau begitu mengesalkan di sekolah, karena prinsip yang ia pegang tentang tanggung jawab sebagai, guru. Aku masih ingat kata-katanya atau lebih tepat omelannya kepada kami “Ibu ini Guru, tugasnya mengajar kalian sampai bisa. Kalau kalian tidak bisa, Ibu berdosa!” Maka wajar saja jika hanya dia guru di sekolahku yang bisa mengadakan remedial sampai sore hari dan bahkan bisa dilanjutkan di hari berikutnya karena begitu banyak siswa yang harus diremedial, dari jumlah 5 kelas IPA yang ada di sekolahku, jika semua murid yang diremedial dijumlahkan akan setara sekitar jumlah siswa dua kelas. Dan aku selalu termasuk ke dalamnya.
Saat menjelang masa kelulusan sekolah, walau tidak lagi menjadi wali kelasku, ibu masih sering mengajakku mengobrol di ruang guru. menjaga asaku untuk tetap berkuliah, meski asa itu terkadang meredup jika aku ingat tentang ketiadaan biaya saat itu. Namun Ibu terus menyemangatiku agar mencoba mendaftar berbagai beasiswa yang ada ketika itu.
Hingga pada suatu malam aku mendapat kabar dari seorang teman, yang aku mintai tolong untuk membuka pengumuman di Internet. Dia bilang aku lolos dan diterima di Universitas Indonesia. Aku tidak percaya, aku mengira dia bercanda, tapi setelah aku meminta bantuan ke teman yang lain, ternyata jawabannya pun sama. Aku diterima di UI. Akhirnya takdir memberi aku kesempatan untuk bisa meneruskan kuliah. Aku tidak lupa mengabari Bu Elly tentang kabar ini.
“Selamat. Besok temui Ibu di ruang guru.” hanya itu balasan pesan singkat dari Bu Elly.
Keesokan harinya sesuai janjiku, aku menemui Ibu di ruang guru. Kita hanya berbicara sebentar, hari itu Ibu lebih banyak menyapa guru-guru yang lewat dan memberitahu mereka bahwa aku diterima di UI. Hari itu Ibu nampak bangga denganku.
“Ini untuk bekal kamu. Pasti kamu akan butuh ini.”
Nyatanya aku memang membutuhkan uang itu. Masa awal kuliah ternyata berjalan begitu berat, uang beasiswa belum kunjung turun meski sudah memasuki penghujung semester. Tanpa uang yang ibu berikan, aku bisa saja keluar dari kuliah dan lebih memilih untuk bekerja. Tapi berkat uang itu setidaknya aku bisa bertahan hingga uang beasiswa turun. Sekali lagi ibu mewakili pertolongan Tuhan. Ibu telah banyak terlibat menolongku. Keadaanku saat kuliah masih sulit, tapi aku sudah berjanji kepada diri sendiri bahwa itu bantuan terakhir yang aku dapatkan dari Bu Elly, untuk selanjutnya aku tidak ingin melibatkan beliau lagi, aku akan menyelesaikan semua masalahku sendiri. Itu janjiku, dan hal itu telah mampu kubuktikan. Kini anak yang merepotkan Ibu sekitar 4 tahun lalu itu akan wisuda, aku tidak pernah lupa akan kebaikan Ibu yang tidak bisa aku pungkiri membawa andil yang membuatku bisa sampai di titik sejauh ini.
Ibu tahu, di hari wisudaku nanti, mungkin aku menjadi sedikit mahasiswa yang akan melewati wisuda seorang diri tanpa dihadiri oleh orang tua dan sanak saudara, atau mungkin hanya aku yang seperti itu. Biarkan lah. Lagi pula bagaimana pun wisudaku nanti, itu tidak menjadi masalah besar, Ibu pasti masih mengenalku, aku masih sama seperti dulu yang sudah terbiasa melewati apapun seorang diri. Aku tetap bersyukur bisa wisuda tepat waktu dan juga bersama teman-teman yang selama ini sudah baik denganku, saking baiknya ada temanku yang mau menyewakan orang tuanya untuk berfoto bersamaku menggantikan orangtuaku yang tidak bisa datang saat wisuda.
Satu yang aku ingin lakukan setelah wisuda adalah menemuimu untuk menyampaikan banyak terima kasih dari kedua orangtuaku serta aku pribadi. Aku akan mendatangimu, berjalan menghampirimu dan berseru. “Ibu, muridmu yang sebelum kau marahi selalu dapat nilai 3 atau 4 setiap ulangan kimia, sekarang sudah lulus!”Ya, hanya setelah dimarahi Ibu ketika itu aku bisa mendapatkan nilai ulangan kimia 75 untuk pertama kalinya, di materi Asam-Basa, tepatnya. Aku masih ingat itu. Hehehe..
Ibu aku pinta agar kau jangan cepat menua, tetaplah sehat, tetap lah selalu muda agar ibu kelak masih sempat melihat aku di masa depan. Siapa tahu nanti aku jadi presiden atau setidaknya pembesar di negeri ini. Aminkan saja, Bu agar nanti Ibu bisa bilang ke mereka bahwa aku ini murid Ibu .
Ibu, aku rindu. Aku boleh ya, berkunjung ke rumah :)